Fe sedang sibuk mengutak atik laptop di hadapannya, ia tengah asyik berimajinasi tentang novel yang sedang ia buat. Cewek cuek yang suka berkhayal dan bermimpi ini tertarik pada dunia sastra sejak memenangkan lomba menulis puisi di SMA JAYA BANGSAKU dan kini menjadi pengisi halaman cerpen di majalah sekolahnya itu.
Naima Felixa yang akrab disapa ‘Fe’ ini duduk di kelas XB, ia memang tak terlalu menonjol, tapi Fe memunyai kemampuan merata di seluruh mata pelajaran, berbeda dengan beberapa temannya yang menjadi spesialis di satu bidang saja. Tapi, sepertinya Fe lebih berbakat di pelajaran Bahasa Indonesia. Tak heran, banyak guru bahasa yang senang dengannya.
Rabu pagi dikelas Fe..
Semua kursi bagian belakang penuh karena pagi ini ulangan fisika. Fe yang baru datang, mau tak mau harus duduk di depan bersama masternya fisika, Arin. Bukannya belajar, ia malah sibuk mengeluarkan headset dari tasnya dan mulai menyambungkannya dengan handphone.
Arin yang sudah terbiasa dengan Fe hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu. Maklumlah mereka memang sudah lama berteman, karena kedua orangtua mereka juga bersahabat dari dulu. Orangtua Arin sukses sebagai dosen dan membuka beberapa tempat les, sedangkan kedua orangtua Fe berprofesi sebagai dokter, entah kenapa kepandaian orangtuanya tak diwarisi oleh Fe.
”fe, kamu tau kan bentar lagi kita ulangan?” Arin akhirnya angkat bicara.
Fe yang mendengar Arin di balik headsetnya menjawab dengan anggukan pelan.
“lima menit lagi lo fe, udah belajar belom?” tanya Arin lagi.
”udah kok.. tadi gue sempat baca dikit pas lagi di bis” jawabnya santai.
“dikit? di bis? jangan becanda fe, ini fisika!”
“siapa bilang sejarah?” jawab Fe.
Arin hanya bisa pasrah melihat tingkah sahabatnya itu.
Lima menit kemudian, Bu Hera masuk sambil membawa tumpukan soal ulangan. Mereka yang dari tadi sibuk belajar , menghentikan kegiatannya. Begitu juga Fe, dengan penuh kesadaran, ia melepas headsetnya.
Ulangan dimulai, meja diatur jaraknya. Fe dan Arin duduk paling depan, sedangkan yang lain pindah ke belakang.
Ulangan selesai satu jam kemudian, Arin dan teman-teman Fe lainnya langsung membahas soal, sedangkan ia sama sekali tak berniat, apalagi berminat.
Fe langsung menyendiri di pojok kelas dan melanjutkan bacaan novel edensornya yang terpaksa ditunda karena ulangan hari ini. Baru lima menit membaca, kesenangannya terusik dengan kedatangan guru BK yang terlalu tepat waktu masuk ke kelasnya. Ternyata guru BK yang datang bukan guru yang biasanya, tapi mahasiswa praktik yang sedang bertugas.
Ia memperkenalkan diri di depan kelas. Menurut Fe, guru yang masih sangat muda ini nggak pantas dipanggil bapak, tapi cukup dipanggil kakak. Fe dan teman-teman menyambut baik bapak yang bernama Reno ini, mungkin karena sifatnya yang ramah dan mudah beradaptasi.
Pertemuan pertama, mereka tak langsung belajar, hanya menuliskan biodata dan bakat serta minat masing-masing.
Bel berbunyi, semua mulai keluar kelas. Reno yang masih berada disana menghampiri Fe yang kebetulan belum keluar kelas.
”bisa temui saya nanti?” tanya Reno dengan ramah.
”kapan pak?”tanya Fe
”pulang sekolah di ruang BK”.
Fe tidak menjawab lagi.
”apa salah saya pak?” tanya Fe akhirnya.
”apa ruang BK hanya untuk tersangka?” Reno balik bertanya.
”baiklah”. Fe yang tidak mau berdebat mengakhiri pembicaraannya dan segera keluar kelas setelah izin dari Reno.
”duduklah..” sapa Reno mempersilakan Fe yang masih berdiri di ambang pintu.
Fe mengikutinya dan duduk berhadapan dengan guru barunya.
“kakak melihat sesuatu yang unik dalam dirimu”. Reno memulai pembicaraan.
apa? kakak? Gue senang sama panggilan ini..
”bapak liat kamu berbakat dan seneng nulis..”
”memangnya kenapa pak?”
”kamu panggil kakak aja, pake lo-gue juga boleh.”
makin aneh aja..tadi kakak, terus bapak, sekarang lo gue..maunya apa sih?? rutuk Fe dalam hatinya.
“ya udah..gue-lo aja biar lebih nyantai..tapi beneran nggak berpengaruh ke nilai saya kan pak?” tanya Fe meyakinkan.
“dijamin, lagian umur kita nggak beda jauh kok..”
“kamu hobi nulis tapi pengen jadi dokter?” tanya Reno lagi.
” apa salahnya?”
” memang nggak ada salahnya..tapi menurut saya ada yang aneh!”
”aneh apanya? keren kali, dokter yang kerjaan sampingannya nulis.”
”keren sih iya..tapi keliatannya kamu terpaksa, tulisan di biodata itu kurang meyakinkan, bahkan terkesan sebagai cita-cita yang biasa disebutkan anak-anak”
”kenapa bapak yang ribet sama hidup saya? permisi..”
Fe meninggalkan Reno yang masih terdiam mendengar ucapannya barusan.
Fe sedang berada di tempat kursus MIPAnya, kalau bukan karena orangtuanya, ia mungkin tak akan pernah masuk ke tempat ini. Tapi ia harus berusaha menikmatinya selama tiga hari dalam seminggu, sungguh menyiksa baginya.
Hari ini ia kursus matematika dan biologi selama tiga jam. Kelas sudah ramai namun guru yang ditunggu belum datang hingga sepuluh menit berlalu.
Ternyata bukan cuma gue yang nggak minat MIPA, gurunya aja ngaret gini.
Ia berceloteh dalam hati hingga yang ditunggupun akhirnya datang juga.
Meskipun les tiga kali seminggu, ia tak pernah melewati salah satu harinya dengan serius. Selama ini, hanya i-pod, novel, dan beberapa komiklah yang membuatnya bertahan dalam kelas itu.
Selama dua pelajaran itu, Fe hanya menatap novel yang diletakkan di bawah meja dan sesekali melihat gurunya supaya nggak ketahuan, ini terjadi dari awal hingga akhir pelajaran.
Fe langsung menuju parkiran motornya setelah kursus usai, ia langsung pulang karena memang sudah sore. Lima belas menit perjalanan, Fe tiba dirumahnya yang masih terlihat sepi. Ketika masuk rumah ia melihat kedua adik kembarnya yang tengah asyik bermain playstation. Mereka dilahirkan kembar identik, Dion lebih tua beberapa menit dari adiknya Dian. Mereka memang sangat mirip dalam segi apapun, bahkan Dian yang seorang cewekpun cenderung berpenampilan tomboy. Dari dulu, mereka selalu kompak dan sangat akur. Saking akrabnya, mereka bahkan tidak dekat dengan Fe.
”tukar baju dulu deh, ntar dilanjutin lagi..” kata Fe pada dua adiknya.
”tanggung nih..” jawab mereka hampir bersamaan.
Fe hanya bisa mengalah dengan dua bocah SMP yang keras kepala namun jenius itu.
Hasil ulangan fisika dibagikan. Seperti biasa, nama yang dipanggil paling awal adalah yang mendapat nilai tertinggi. Kali ini, lagi-lagi Bu Hera memanggil nama Arin untuk yang kesekian kalinya, tentu saja tak ada yang heran, angka sempurna untuknya. Sementara itu Fe hanya menunggu dengan santai ditengah kecemasan teman-temannya. Namanya belum juga dipanggil hingga semua hampir mendapatkan kertas masing-masing.
Akhirnya Fe yang tengah mengunyah permen karet itu dipanggil kedepan. Terakhir!
”gimana Fe?” tanya Arin.
Fe tak menjawab. Akhirnya Arin berinisiatif mengambil kertas Fe di atas meja dan melihatnya.
”waw!”
”apa maksud lo? nyindir ya?” tanyanya ketus.
“aku bangga sama kamu fe, walaupun nggak belajar masih bisa dapet nilai segini, apalagi kamu juga nggak pernah serius di tempat les”.
”kak gilang sering cerita sama lo ya?”
”nggak”
”terus, dapet info darimana?”
”dari CCTV. Aku sering liat sendiri Fe, kamu selalu baca komik dan melakukan hal-hal lain yang seharusnya nggak kamu lakukan disana!, aku bebas melakukannya kapanpun!”
”lo bakal cerita ke nyokap? silakan...”
”bukan itu maksudku fe, aku cuma pengen kamu berubah. Nggak belajar aja kamu bisa dapet nilai tuntas, apalagi kalo serius! bisa-bisa kamu ngalahin aku, fe..”
”kalo dasarnya bego, selamanya juga bakalan bego rin...” katanya.
”aku kecewa punya temen yang pikirannya dangkal kayak kamu” kata Arin tegas.
Fe mengambil salah satu novel dari rak besar yang terletak di salah satu sudut kamarnya. Novel ini sudah berulang kali dibacanya, mungkin karena ia sangat terinspirasi menjadi seorang penulis.
Tengah asyik membaca, mama Fe masuk ke dalam kamarnya.
”fe..” sapa mamanya.
”mama!” Fe segera bangkit dan duduk di sebelah mamanya.
”mama nggak ngerti permasalahan kamu, tiap hari kamu selalu megang novel, apa-apa novel, apa-apa komik, kapan megang buku pelajarannya?” nada mama langsung meninggi.
”fe udah keseringan megang buku ma, pulang sekolah aja udah sore, apalagi kalau les..”
”tapi jangan keseringan fe.., mama khawatir. Kamu mau jadi apa nanti? penulis? tolong pikirkan masa depan, penulis nggak sehebat yang kamu bayangkan!”
“terus fe harus jadi dokter spesialis yang hebat kayak mama papa? nilai IPAnya harus bagus? fe nggak bisa, ma..”
”fe, tolong kamu juga hargai permintaan mama. Mama hanya ingin kamu berhasil, punya masa depan cerah, bisa meneruskan usaha keluarga di klinik kita! bahkan kalau kamu nanti lebih hebat, kita bisa bikin rumah sakit sekalian.”
”fe usahakan ma..”
”kalau kamu bisa berubah, mama juga akan berubah, mama akan mengizinkan kamu buat nulis dan mengerjakan apapun yang kamu mau” nada mamanya merendah.
”makasi ma, fe janji dan mama juga!” Fe menatap mamanya dengan seulas senyum di wajahnya. Begitu juga dengan mamanya.
Fe sedang menikmati jus mangga di kantin sekolahnya saat jam istirahat.
”hai fe..” sapa seseorang yang muncul dihadapannya.
”siapa lo?, sok kenal!” bukannya balik menyapa, Fe malah marah padanya.
”gue king!”
”kenapa lo disini?”
“gue mau minta bantuan lo, kata kak reno lo jago nulis, jadi apa salahnya gue minta lo bikinin profil gue buat diterbitin di mading? bisa kan?”
“eh, kenal juga baru, terus apa hubungan lo sama kak reno? minta bantuan lagi!”
”eh, dasar sepupu sombong, belagak nggak kenal, pelit lagi!”
”sepupu apaan?”
”fe, ini gue king.. anak kakaknya bokap lo, bokap lo dan bokap gue beda ibu, intinya kita berasal dari nenek yang beda.”
Fe terdiam sebentar, berusaha mencerna penjelasan panjang lebar dari King yang nggak disangka olehnya.
”apa hubungannya sama kak reno?”
”lo amnesia apa bukan keluarga kita sih?, masa lo nggak kenal kak reno? kak en!? gue adik kandungnya, dari dulu gue emang nggak pernah serumah sama kak en, tapi gue yakin kakak pernah cerita tentang gue ke elo.
”Jangan bilang lo belom inget” King menatapnya penuh harap.
”gue inget sekarang, kak reno adalah kak en, sepupu yang ngertiin gue. Terakhir ketemu beberapa puluh tahun yang lalu..”
”berlebihan lo, sepuluh tahunan kali” kata King.
”ya.. kira-kira segitu deh!, gue juga inget, kak en pernah cerita tentang lo, tapi gue lupa dia cerita apa!”
“dasar.. jadi gimana, lo mau bantu gue kan?”
“ya udah, sebagai hadiah perjumpaan kembali para sepupu yang telah lama berpisah, gue bersedia membantu lo.”
“gitu donk..kan gue juga nggak perlu ngasi sogokan..”. King memperlihatkan beberapa novel teenlit terbaru yang dibawanya untuk berjaga-jaga kalau Fe nggak mau membantunya.
“waww..new release semua tuh..bagi gue donk!” pinta Fe.
“kalau lo mau, ambil aja, kebetulan gue nggak minat baca.”
“beneran nih?, makasi ya!” Fe terlihat senang.
“iya, tapi bikin profilnya yang keren ya!”
“sip deh!! o, ya! lo kelas berapa?”
“X.C, males diajar sama kak en, bosen ngeliat mukanya. Lo X.B kan?”
”tau dari mana? kak en cerita banyak tentang gue?”
”banyak banget, maklum, dia emang pengen punya adik cewek dari dulu, gue sampai merasa di adik-tirikan karena kayaknya dia lebih perhatian sama lo dibanding gue.”
”ooo.. ya udah, gue ke kelas dulu ya, lo tunggu aja profilnya di mading minggu depan, pasti buat calon kapten baru tim basket kan?”
”iya, thanks ya!”
”sama-sama”. Fe meninggalkan kantin tepat saat bel masuk berbunyi.
Minggu ujian. Fe menjalaninya dengan sepenuh hati. Akhir-akhir ini banyak perubahan yang diperlihatkannya, mulai dari mengurangi kunjungannya ke toko buku, serius dalam kelas ataupun les, bahkan menunda penulisan cerpennya yang akan diperlombakan. Keadaan juga semakin membaik, ia makin akrab dengan King dan Reno, sangat akur layaknya saudara sepupu. Semua mulai berevolusi.
Fe menunggu mamanya yang sedang mengambil rapor kenaikan kelas. Ia sangat berharap usaha dan pengorbanan kerasnya selama ini berbuah manis. Selain itu, hari ini ia juga menunggu pengumuman pemenang lomba menulis cerpennya. Beberapa hari yang lalu, ia sudah meminta King untuk mengirim naskahnya dan hari inilah saat yang ditunggu-tunggu.
Beberapa menit kemudian, Fe melihat wajah mamanya terlihat sedih ketika keluar dari kelas.
”gimana ma? maafin fe..” Fe juga tampak sedih.
”hahahahaha.. mama jago akting, kan?! nggak nak..teruskan perjuanganmu, ini awal yang baik” mamanya tersenyum dan melihatkan rapor pada Fe.
“lima besar!” ekspresi Fe tampak kaget, setengah tak percaya.
”selamat ya..” kali ini mama mencium kening Fe.
Thank’s god.. Gumamnya dalam hati.
Fe, Reno, dan King tengah berada dalam mobil yang dikendarai Reno menuju tempat pengumuman pemenang lomba cerpen.
“pastiin kita orang pertama yang dapet traktiran kalau lo menang” kata King sambil melirik Reno yang juga tersenyum.
”kalau kalah?” Fe balik bertanya
”kak reno yang bayarin..” King menjawab santai.
”apa aja deh buat kalian!” Reno tersenyum simpul.
”lo yang liat deh..gue nggak siap!” pinta Fe pada King.
”cemen lo! itu namanya nggak PD, sana..liat aja sendiri!”
Reno dan King menatap Fe yang tampak tegang berjalan menuju papan pengumuman.
”gue yakin dia berhasil!”
”ya, dia pasti bisa” tambah King.
Setelah menerobos kerumunan manusia dengan tujuan yang sama, Fe berhasil keluar dan langsung berlarian ke arah dua sepupunya.
“ayo makan-makan!” wajah Fe tampak riang.
”lo menang?” tanya keduanya bersamaan.
”hmm.. tapi yang bayarin king”
”kenapa gue?”
”karena hadiahnya belom keluar..dan ini nggak ada di perjanjian kita tadi, kan?!”
”bener juga..” King tampak menyerah, disambut tertawaan Reno dan Fe.
”tunggu apa lagi?” tanya Reno pada kedua adiknya dan merangkul mereka sambil berjalan ke arah jazz-nya.
Apa yang mereka katakan benar, nggak ada salahnya gue berubah jadi yang lebih baik. Pengorbanan gue nggak sia-sia, gue banyak dukungan dan semoga cita-cita dokter dengan sampingan penulis itu bisa terwujud.
Fe mengingat perjuangannya. Tak terasa, setitik air mata jatuh perlahan melalui sudut mata seorang Naima Felixa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar