12 April, 2011

don't give up!!!

Kadang kita pernah berfikir kalau kegagalan itu adalah akhir dari segalanya. Termasuk gue, gue pernah mengalami yang namanya putus asa terparah dalam hidup gue, tepatnya sekitar akhir semester dua kelas sepuluh lalu.
Gue yang keliatannya tegar, tanpa beban, cuek bahkan santai, ternyata bisa ngeluarin air mata di depan temen temen yang selama ini nggak pernah ngeliat gue nangis.
Kejadiannya di mushalla sekolah gue, waktu itu seperti biasa kami masi nangkring disana sehabis shalat, padahal bel udah bunyi dari tadi. Ntah kenapa gue jadi mendadak mellow pas denger cerita temen temen mengenai nilai ulangan, atau nilai nilai lain. Mereka menceritakan dengan santai, tanpa merasa disini gue lagi merasakan hal yang jauh berbeda dengan mereka.
Waktu itu gue sempet ngerasa jadi manusia paling bego di dunia, jangankan dapet nilai tinggi, saat itupun nilai diatas KKM terbilang susah gue raih. Ntah apa yang terjadi, semua nilai gue mendadak ancur seancur ancurnya L.
Nggak kerasa akhirnya gue nangis di hadapan lumayan banyak temen waktu itu. Gue juga udah nggak mikir malu lagi buat nangis, toh kalau nangis bikin hati gue cukup tenang, apalagi ngeliat reaksi temen gue yang lumayan kaget ngeliat seorang lady yang nggak pernah-pernahnya nangis, dengan gamblangnya berubah menjadi sosok yang mellow. Sontak beberapa temen langsung bertanya kenapa gue mewek.
Bukannya makin tegar, gue malah makin nangis kalau dikerubutin sekaligus ditanya tanya kayak gini. Dan jadilah gue makin terisak isak setelah ditimpa bertubi tubi pertanyaan.
Setelah susah payah, gue bercerita diantara rentetan isak tangis itu..jiaah ---“
Akhirnya gue merasa dapet energy baru dari temen temen gue itu, mereka sukses bikin gue yang down jadi lebih bersemangat, nggak gampang nyerah karena masi banyak yang bisa dibilang kondisinya jauh lebih parah dari yang gue alami. Alhamdulillah, allah masi sayang gue.
Super banget, gue terharu punya temen kayak mereka, ternyata motivasi banyak temen juga nggak kalah pentingnya disaat saat kayak gini.
Tapi yang anehnya, mewek gue berlanjut ke kelas, alhasil makin banyaklah manusia yang tahu insiden memalukan ini. Tapi bodolah, gue akhirnya tetep ngerjain tugas waktu itu tanpa liat kiri kanan, tetep focus sama kertas dan air mat a gue. hahaha

07 April, 2011

Cerpen : Aku ingin menjadi...


Fe sedang sibuk mengutak atik laptop di hadapannya, ia tengah asyik berimajinasi tentang novel yang sedang ia buat. Cewek cuek yang suka berkhayal dan bermimpi ini tertarik pada dunia sastra sejak memenangkan lomba menulis puisi di SMA JAYA BANGSAKU dan kini menjadi pengisi halaman cerpen di majalah sekolahnya itu.
Naima Felixa yang akrab disapa ‘Fe’ ini duduk di kelas XB, ia memang tak terlalu menonjol, tapi Fe memunyai kemampuan merata di seluruh mata pelajaran, berbeda dengan beberapa temannya yang menjadi spesialis di satu bidang saja. Tapi, sepertinya Fe lebih berbakat di pelajaran Bahasa Indonesia. Tak heran, banyak guru bahasa yang senang dengannya.

Rabu pagi dikelas Fe..
Semua kursi bagian belakang penuh karena pagi ini ulangan fisika. Fe yang baru datang, mau tak mau harus duduk di depan bersama masternya fisika, Arin. Bukannya belajar, ia malah sibuk mengeluarkan headset dari tasnya dan mulai menyambungkannya dengan handphone.
Arin yang sudah terbiasa dengan Fe hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu. Maklumlah mereka memang sudah lama berteman, karena kedua orangtua mereka juga bersahabat dari dulu. Orangtua Arin sukses sebagai dosen dan membuka beberapa tempat les, sedangkan kedua orangtua Fe berprofesi sebagai dokter, entah kenapa kepandaian orangtuanya tak diwarisi oleh Fe.
”fe, kamu tau kan bentar lagi kita ulangan?” Arin akhirnya angkat bicara.
Fe yang mendengar Arin di balik headsetnya menjawab dengan anggukan pelan.
“lima menit lagi lo fe, udah belajar belom?” tanya Arin lagi.
”udah kok.. tadi gue sempat baca dikit pas lagi di bis” jawabnya santai.
“dikit? di bis? jangan becanda fe, ini fisika!”
“siapa bilang sejarah?” jawab Fe.
Arin hanya bisa pasrah melihat tingkah sahabatnya itu.
Lima menit kemudian, Bu Hera masuk sambil membawa tumpukan soal ulangan. Mereka yang dari tadi sibuk belajar , menghentikan kegiatannya. Begitu juga Fe, dengan penuh kesadaran, ia melepas headsetnya.
Ulangan dimulai, meja diatur jaraknya. Fe dan Arin duduk paling depan, sedangkan yang lain pindah ke belakang.
Ulangan selesai satu jam kemudian, Arin dan teman-teman Fe lainnya langsung membahas soal, sedangkan ia sama sekali tak berniat, apalagi berminat.
Fe langsung menyendiri di pojok kelas dan melanjutkan bacaan novel edensornya yang terpaksa ditunda karena ulangan hari ini. Baru lima menit membaca, kesenangannya terusik dengan kedatangan guru BK yang terlalu tepat waktu masuk ke kelasnya. Ternyata guru BK yang datang bukan guru yang biasanya, tapi mahasiswa praktik yang sedang bertugas.
Ia memperkenalkan diri di depan kelas. Menurut Fe, guru yang masih sangat muda ini nggak pantas dipanggil bapak, tapi cukup dipanggil kakak. Fe dan teman-teman menyambut baik bapak yang bernama Reno ini, mungkin karena sifatnya yang ramah dan mudah beradaptasi.
Pertemuan pertama, mereka tak langsung belajar, hanya menuliskan biodata dan bakat serta minat masing-masing.
Bel berbunyi, semua mulai keluar kelas. Reno yang masih berada disana menghampiri Fe yang kebetulan belum keluar kelas.
”bisa temui saya nanti?” tanya Reno dengan ramah.
”kapan pak?”tanya Fe
”pulang sekolah di ruang BK”.
Fe tidak menjawab lagi.
”apa salah saya pak?” tanya Fe akhirnya.
”apa ruang BK hanya untuk tersangka?” Reno balik bertanya.
”baiklah”. Fe yang tidak mau berdebat mengakhiri pembicaraannya dan segera keluar kelas setelah izin dari Reno.

”duduklah..” sapa Reno mempersilakan Fe yang masih berdiri di ambang pintu.
Fe mengikutinya dan duduk berhadapan dengan guru barunya.
“kakak melihat sesuatu yang unik dalam dirimu”. Reno memulai pembicaraan.
apa? kakak? Gue senang sama panggilan ini..
”bapak liat kamu berbakat dan seneng nulis..”
”memangnya kenapa pak?”
”kamu panggil kakak aja, pake lo-gue juga boleh.”
makin aneh aja..tadi kakak, terus bapak, sekarang lo gue..maunya apa sih?? rutuk Fe dalam hatinya.
“ya udah..gue-lo aja biar lebih nyantai..tapi beneran nggak berpengaruh ke nilai saya kan pak?” tanya Fe meyakinkan.
“dijamin, lagian umur kita nggak beda jauh kok..”
“kamu hobi nulis tapi pengen jadi dokter?” tanya Reno lagi.
” apa salahnya?”
” memang nggak ada salahnya..tapi menurut saya ada yang aneh!”
”aneh apanya? keren kali, dokter yang kerjaan sampingannya nulis.”
”keren sih iya..tapi keliatannya kamu terpaksa, tulisan di biodata itu kurang meyakinkan, bahkan terkesan sebagai cita-cita yang biasa disebutkan anak-anak”
”kenapa bapak yang ribet sama hidup saya? permisi..”
Fe meninggalkan Reno yang masih terdiam mendengar ucapannya barusan.

Fe sedang berada di tempat kursus MIPAnya, kalau bukan karena orangtuanya, ia mungkin tak akan pernah masuk ke tempat ini. Tapi ia harus berusaha menikmatinya selama tiga hari dalam seminggu, sungguh menyiksa baginya.
Hari ini ia kursus matematika dan biologi selama tiga jam. Kelas sudah ramai namun guru yang ditunggu belum datang hingga sepuluh menit berlalu.
Ternyata bukan cuma gue yang nggak minat MIPA, gurunya aja ngaret gini.
Ia berceloteh dalam hati hingga yang ditunggupun akhirnya datang juga.
Meskipun les tiga kali seminggu, ia tak pernah melewati salah satu harinya dengan serius. Selama ini, hanya i-pod, novel, dan beberapa komiklah yang membuatnya bertahan dalam kelas itu.
Selama dua pelajaran itu, Fe hanya menatap novel yang diletakkan di bawah meja dan sesekali melihat gurunya supaya nggak ketahuan, ini terjadi dari awal hingga akhir pelajaran.
Fe langsung menuju parkiran motornya setelah kursus usai, ia langsung pulang karena memang sudah sore. Lima belas menit perjalanan, Fe tiba dirumahnya yang masih terlihat sepi. Ketika masuk rumah ia melihat kedua adik kembarnya yang tengah asyik bermain playstation. Mereka dilahirkan kembar identik, Dion lebih tua beberapa menit dari adiknya Dian. Mereka memang sangat mirip dalam segi apapun, bahkan Dian yang seorang cewekpun cenderung berpenampilan tomboy. Dari dulu, mereka selalu kompak dan sangat akur. Saking akrabnya, mereka bahkan tidak dekat dengan Fe.
”tukar baju dulu deh, ntar dilanjutin lagi..” kata Fe pada dua adiknya.
”tanggung nih..” jawab mereka hampir bersamaan.
Fe hanya bisa mengalah dengan dua bocah SMP yang keras kepala namun jenius itu.

Hasil ulangan fisika dibagikan. Seperti biasa, nama yang dipanggil paling awal adalah yang mendapat nilai tertinggi. Kali ini, lagi-lagi Bu Hera memanggil nama Arin untuk yang kesekian kalinya, tentu saja tak ada yang heran, angka sempurna untuknya. Sementara itu Fe hanya menunggu dengan santai ditengah kecemasan teman-temannya. Namanya belum juga dipanggil hingga semua hampir mendapatkan kertas masing-masing.
Akhirnya Fe yang tengah mengunyah permen karet itu dipanggil kedepan. Terakhir!
”gimana Fe?” tanya Arin.
Fe tak menjawab. Akhirnya Arin berinisiatif mengambil kertas Fe di atas meja dan melihatnya.
”waw!”
”apa maksud lo? nyindir ya?” tanyanya ketus.
“aku bangga sama kamu fe, walaupun nggak belajar masih bisa dapet nilai segini, apalagi kamu juga nggak pernah serius di tempat les”.
”kak gilang sering cerita sama lo ya?”
”nggak”
”terus, dapet info darimana?”
”dari CCTV. Aku sering liat sendiri Fe, kamu selalu baca komik dan melakukan hal-hal lain yang seharusnya nggak kamu lakukan disana!, aku bebas melakukannya kapanpun!”
”lo bakal cerita ke nyokap? silakan...”
”bukan itu maksudku fe, aku cuma pengen kamu berubah. Nggak belajar aja kamu bisa dapet nilai tuntas, apalagi kalo serius! bisa-bisa kamu ngalahin aku, fe..”
”kalo dasarnya bego, selamanya juga bakalan bego rin...” katanya.
”aku kecewa punya temen yang pikirannya dangkal kayak kamu” kata Arin tegas.

Fe mengambil salah satu novel dari rak besar yang terletak di salah satu sudut kamarnya. Novel ini sudah berulang kali dibacanya, mungkin karena ia sangat terinspirasi menjadi seorang penulis.
Tengah asyik membaca, mama Fe masuk ke dalam kamarnya.
”fe..” sapa mamanya.
”mama!” Fe segera bangkit dan duduk di sebelah mamanya.
”mama nggak ngerti permasalahan kamu, tiap hari kamu selalu megang novel, apa-apa novel, apa-apa komik, kapan megang buku pelajarannya?” nada mama langsung meninggi.
”fe udah keseringan megang buku ma, pulang sekolah aja udah sore, apalagi kalau les..”
”tapi jangan keseringan fe.., mama khawatir. Kamu mau jadi apa nanti? penulis? tolong pikirkan masa depan, penulis nggak sehebat yang kamu bayangkan!”
“terus fe harus jadi dokter spesialis yang hebat kayak mama papa? nilai IPAnya harus bagus? fe nggak bisa, ma..”
”fe, tolong kamu juga hargai permintaan mama. Mama hanya ingin kamu berhasil, punya masa depan cerah, bisa meneruskan usaha keluarga di klinik kita! bahkan kalau kamu nanti lebih hebat, kita bisa bikin rumah sakit sekalian.”
”fe usahakan ma..”
”kalau kamu bisa berubah, mama juga akan berubah, mama akan mengizinkan kamu buat nulis dan mengerjakan apapun yang kamu mau” nada mamanya merendah.
”makasi ma, fe janji dan mama juga!” Fe menatap mamanya dengan seulas senyum di wajahnya. Begitu juga dengan mamanya.

Fe sedang menikmati jus mangga di kantin sekolahnya saat jam istirahat.
”hai fe..” sapa seseorang yang muncul dihadapannya.
”siapa lo?, sok kenal!” bukannya balik menyapa, Fe malah marah padanya.
”gue king!”
”kenapa lo disini?”
“gue mau minta bantuan lo, kata kak reno lo jago nulis, jadi apa salahnya gue minta lo bikinin profil gue buat diterbitin di mading? bisa kan?”
“eh, kenal juga baru, terus apa hubungan lo sama kak reno? minta bantuan lagi!”
”eh, dasar sepupu sombong, belagak nggak kenal, pelit lagi!”
”sepupu apaan?”
”fe, ini gue king.. anak kakaknya bokap lo, bokap lo dan bokap gue beda ibu, intinya kita berasal dari nenek yang beda.”
Fe terdiam sebentar, berusaha mencerna penjelasan panjang lebar dari King yang nggak disangka olehnya.
”apa hubungannya sama kak reno?”
”lo amnesia apa bukan keluarga kita sih?, masa lo nggak kenal kak reno? kak en!? gue adik kandungnya, dari dulu gue emang nggak pernah serumah sama kak en, tapi gue yakin kakak pernah cerita tentang gue ke elo.
”Jangan bilang lo belom inget” King menatapnya penuh harap.
”gue inget sekarang, kak reno adalah kak en, sepupu yang ngertiin gue. Terakhir ketemu beberapa puluh tahun yang lalu..”
”berlebihan lo, sepuluh tahunan kali” kata King.
”ya.. kira-kira segitu deh!, gue juga inget, kak en pernah cerita tentang lo, tapi gue lupa dia cerita apa!”
“dasar.. jadi gimana, lo mau bantu gue kan?”
“ya udah, sebagai hadiah perjumpaan kembali para sepupu yang telah lama berpisah, gue bersedia membantu lo.”
“gitu donk..kan gue juga nggak perlu ngasi sogokan..”. King memperlihatkan beberapa novel teenlit terbaru yang dibawanya untuk berjaga-jaga kalau Fe nggak mau membantunya.
“waww..new release semua tuh..bagi gue donk!” pinta Fe.
“kalau lo mau, ambil aja, kebetulan gue nggak minat baca.”
“beneran nih?, makasi ya!” Fe terlihat senang.
“iya, tapi bikin profilnya yang keren ya!”
“sip deh!! o, ya! lo kelas berapa?”
“X.C, males diajar sama kak en, bosen ngeliat mukanya. Lo X.B kan?”
”tau dari mana? kak en cerita banyak tentang gue?”
”banyak banget, maklum, dia emang pengen punya adik cewek dari dulu, gue sampai merasa di adik-tirikan karena kayaknya dia lebih perhatian sama lo dibanding gue.”
”ooo.. ya udah, gue ke kelas dulu ya, lo tunggu aja profilnya di mading minggu depan, pasti buat calon kapten baru tim basket kan?”
”iya, thanks ya!”
”sama-sama”. Fe meninggalkan kantin tepat saat bel masuk berbunyi.

Minggu ujian. Fe menjalaninya dengan sepenuh hati. Akhir-akhir ini banyak perubahan yang diperlihatkannya, mulai dari mengurangi kunjungannya ke toko buku, serius dalam kelas ataupun les, bahkan menunda penulisan cerpennya yang akan diperlombakan. Keadaan juga semakin membaik, ia makin akrab dengan King dan Reno, sangat akur layaknya saudara sepupu. Semua mulai berevolusi.


Fe menunggu mamanya yang sedang mengambil rapor kenaikan kelas. Ia sangat berharap usaha dan pengorbanan kerasnya selama ini berbuah manis. Selain itu, hari ini ia juga menunggu pengumuman pemenang lomba menulis cerpennya. Beberapa hari yang lalu, ia sudah meminta King untuk mengirim naskahnya dan hari inilah saat yang ditunggu-tunggu.
Beberapa menit kemudian, Fe melihat wajah mamanya terlihat sedih ketika keluar dari kelas.
”gimana ma? maafin fe..” Fe juga tampak sedih.
”hahahahaha.. mama jago akting, kan?! nggak nak..teruskan perjuanganmu, ini awal yang baik” mamanya tersenyum dan melihatkan rapor pada Fe.
“lima besar!” ekspresi Fe tampak kaget, setengah tak percaya.
”selamat ya..” kali ini mama mencium kening Fe.
Thank’s god..  Gumamnya dalam hati.

Fe, Reno, dan King tengah berada dalam mobil yang dikendarai Reno menuju tempat pengumuman pemenang lomba cerpen.
“pastiin kita orang pertama yang dapet traktiran kalau lo menang” kata King sambil melirik Reno yang juga tersenyum.
”kalau kalah?” Fe balik bertanya
”kak reno yang bayarin..” King menjawab santai.
”apa aja deh buat kalian!” Reno tersenyum simpul.

”lo yang liat deh..gue nggak siap!” pinta Fe pada King.
”cemen lo! itu namanya nggak PD, sana..liat aja sendiri!”
Reno dan King menatap Fe yang tampak tegang berjalan menuju papan pengumuman.
”gue yakin dia berhasil!”
”ya, dia pasti bisa” tambah King.
Setelah menerobos kerumunan manusia dengan tujuan yang sama, Fe berhasil keluar dan langsung berlarian ke arah dua sepupunya.
“ayo makan-makan!” wajah Fe tampak riang.
”lo menang?” tanya keduanya bersamaan.
”hmm.. tapi yang bayarin king”
”kenapa gue?”
”karena hadiahnya belom keluar..dan ini nggak ada di perjanjian kita tadi, kan?!”
”bener juga..” King tampak menyerah, disambut tertawaan Reno dan Fe.
”tunggu apa lagi?” tanya Reno pada kedua adiknya dan merangkul mereka sambil berjalan ke arah jazz-nya.

Apa yang mereka katakan benar, nggak ada salahnya gue berubah jadi yang lebih baik. Pengorbanan gue nggak sia-sia, gue banyak dukungan dan semoga cita-cita dokter dengan sampingan penulis itu bisa terwujud.
Fe mengingat perjuangannya. Tak terasa, setitik air mata jatuh perlahan melalui sudut mata seorang Naima Felixa. 
ASAL MULA MUNCULNYA GUE

                Ntah apa yang terjadi, gue pengen aja menceritakan sedikit banyak yang terjadi dalam kehidupan gue sama semuanya. Yang pasti, apa yang gue certain disini diilhami dari kisah nyata yang gue alami. Nggak cuma seneng, tapi juga sedih, duka, lara, gundah gulana dan masih banyak lagi yang bakal gue kupas di sini. Untuk itu, sebelum gue mulai telling story, ada baiknya kita membaca basmalah dulu, hal ini ditujukan agar semua pembaca nggak kaget kalo ada hal-hal dan kejadian gue yang bias bikin jantungan dan lebih parahnya lagi stroke stadium akhir.
                Sebagai pembuka cerita hidup gue, alangkah baiknya kalian mengetahui asal mula munculnya gue. Ya pasti semua tau kan, asal gue masih dari dalem perut seorang ibu. Ya, wanita cantik yang berpenampilan sederhana tapi memberi kesan berwibawa. Itulah sedikit pandangan dan penilaian terhadap nyokap gue.
                Kata nyokap, proses lahiran gue terbilang cukup rumit, berbelit dan melilit-lilit. Tapi jangan khawatir, masi lebih susah trigonometri, aljabar dan kawan-kawannya kok.
                Kenapa dibilang rumit? Nyokap bilang, waktu itu beberapa jam sebelum gue lahir, nyokap udah mampir dari bidan satu ke bidan lainnya. Namun takdir berkata lain, usaha nyokap mendatangi tiga bidan terbilang sia-sia. Karna bidan-bidannya Cuma bilang ”belum waktunya bu..”. pas diceritain, gue mikir. Ini yang salah nyokap gue karna kebelet amat brojolin gue atau bidannya yang gak mau duit? entahlah, sampai sekarang gue belum menemukan jawaban yang akurat dan terpercaya.
                Tapi, satu fakta yang sangat pasti, akhirnya gue dengan sukses dan selamat dibrojolin. Kalo nggak ya gue gak bakal nulis sekarang.
                Gue inget banget, nyokap nyeritain kisah lahiran gue ini dengan semangat, katanya dulu sampe muter-muter pake vespa seharian, baru akhirnya lahir sekitar jam lima sore. Plok plok plok.
                Yang uniknya lagi, pas lahiran gue bidannya gak cuma satu, tapi mendadak jadi dua karna asisten bidan yang nggak lain adalah bokap sendiri. Papa keliatan lebih sibuk dari bidan aslinya, ngelap keringat, megangin tangan nyokap, dan memberi nasihat serta semangat yang membangkitkan nyokap gue, gitu menurut cerita nyokap. So sweet banget deh tu crita kayaknya. Dan menurut gue, mustinya bidan dibayar setengahnya aja karna udah dibantuin bokap. Ahahhaha.
                Akhirnya, setelah melalui rintangan dan hambatan, gue dilahirkan nyokap dengan selamat, tentunya berkat rahmat dan karunia-Nya.
                Ehemm, jadi akhirnya gue dikasi nama yang menurut gue pastinya indah dan cewe banget. LADY CANIA ARMYS. Bagus kan nama gue? Iya dong... ini nama juga susah dapetinnya, setelah bongkar-bongkar kamus indonesia-inggris beberapa hari, baru nemu nama begini deh bokap gue. Gue lahir dengan panjang apa tinggi ya? Tau deh..pokoknya ngalahin penggaris 40 cm tentunya dan berat sekitar 3.5 kg. pokoknya lagi, berat ama panjang gue sangat ideal untuk ukuran bayi pada zaman itu. Hehehe.

listen, beyonce


Listen
To the song here in my heart
A melody I start but can't complete
Listen
To the sound from deep within
It's only beginning to find release

Oh the time has come
For my dreams to be heard
They will not be pushed aside and turned
Into your own all 'cause you won't listen

Listen
I am alone at a crossroads
I'm not at home in my own home
And I've tried and tried to say what's on my mind
You should have known
Oh now I'm done believing you
You don't know what I'm feeling
I'm more than what you made of me
I followed the voice you gave to me
But now I've got to find my own

You should have listened

There is someone here inside
Someone I thought had died so long ago

Oh I'm screaming out
For my dreams to be heard
They will not be pushed aside or worked
into your own all 'cause you won't listen
I don't know where I belong
But I'll be moving on
If you don't
If you won't

Listen
To the song here in my heart
A melody I start but I will complete
Oh now I'm done believing you
You don't know what I'm feeling
I'm more than what you made of me
I followed the voice you think you gave to me
But now I've got to find my own
My own...

04 April, 2011


Yes.. hujan!!!

Brrr…dingin banget, alhasil gue males bangun n kaget pas ngeliat jam handphone gue yang udah pukul enam kurang lima menit. Karena kemarin libur jadi gue kebiasaan telat bangun (emang pernah gitu gue bangun cepet??). setengah jam gue prepare buat sekolah, nggak telat sih, kan lagi hujan, jadi smantri ngasi dispensasi buat membuka gerbang lebih lama dari biasanya. Hujan sukses bikin gue selamat dari insiden telat hari.

Nyampe sekolah gue udah basah kuyup karena nggak pake payung, jaket, sweater, atau apapun. Siswa yang mestinya lewat samping, tetep lewat sana meskipun lagi hujan, berhubung gue rada males basah basahan lagi, gue nekat lewat lobi sekolah yang sepertinya udah di pel petugas kebersihan sekolah, bodo! Apapun yang terjadi gue tetep nekat dengan santainya lewat lobi. Setelah celingak celinguk bentar buat menghindari waka kesiswaan, beberapa orang guru, dan dua orang satpam tentunya, gue berhasil melewati lobi yang seharusnya bukan jalan buat dilewati siswa.

Kalo pagi pagi aja gue udah beruntung gimana ntar siangnya ya? Pikir gue riang dalam hati setelah sukses melewati rintangan pertama hari itu.

Dengan jilbab dan muka yang selalu tampak abstrak ditambah lagi karena hujan yang bikin jilbab gue lebih lepek, gue masuk kelas seperti biasa. Dengan tampang ceria tentunya hahaha.

Pemandangan mengganggu mulai terlihat dimana mana. Apa apaan ini? Pagi pagi hujan badai begini masih sempet sempetnya temen gue sibuk buka buku buat ulangan matematika ntar jam ketiga, sementara gue udah kenyang ngeliat mereka pada belajar, ya allah kapan gue bisa serajin mereka? Gimana bisa rajin, niatpun gue nggak punya. Ada yang sibuk latihan soal, baca catatan, belajar kelompok, nah gue? Dengan alesan males ngebongkar tas dan merusak susunan tas gue yang udah rapi, gue nggak sedikitpun menyentuh buku keramat itu. Pasrah, itulah yang jadi motto hidup gue hari ini.


Seni=sensasi


Seni emang bikin sensasi tiap pertemuan, kali ini, di musim hujan yang lebat dan walau badai menghadang, guru kesenian gue pantang mundur buat bikin sensasi yang lebih wah dari biasanya.

Ntah kenapa aula yang biasanya banjir kalau hujan, kali ini masi kering kerontang kayak nggak terjadi apa apa. Padahal diluar sana hujannya lebat banget. Apa aula ini area bebas hujan? Hanya tuhan yang tahu.

Kali ini kami dibagi jadi beberapa kelompok buat nari alang babega kreasi, jadilah seragam yang tadinya basah karna ujan berubah jadi basah karena keringat, gue pikir pelajaran ini terlalu hot disaat musim hujan kayak gini. -,-


Walau badai menghadang


Kalau dari jam pertama aja semua udah pada ribut mikirin ulangan, apalagi detik detik menuju ulangan kayak gini. Hmm.. ngeliat mereka sesibuk gini pas belajar, gue jadi aneh sendiri kenapa temen temen bisa sebegitu rajin dibanding gue yang males pangkat tak hingga ini. Bukan tipe gue banget lah pokoknya..

5 menit…


15 menit…


30 menit…


“tumben si umi telat, mana pernah kayak gini” kata gue pada nisa yang sama galaunya ama ague kalo udah ulangan kayak gini.

“kebanjiran kali rumahnya” jawab nisa tanpa dosa.

“(amin)” kata gue hanya dalam hati.

Gue dan nisa yang lagi berdiri depan pintu (nggak kalah sama tampang satpam, body guard atau sejenisnya) sementara yang lain pada asik di dalem kelas n ngebahas mat, tiba tiba gue liat rizka dari bawah.

“darimana ka?” Tanya gue

“dari bawah” jawabnya.

“ngapain?” kali ini nisa yang nanya.

“ngeliat umi”

“ADA???” kata gue dan nisa hampir berbarengan.

“kata guru yang lain sih belom dateng, mudah mudahan aja nggak dateng dateng “ jawab rizka. Ternyata makhluk sepolos rizka juga menginginkan hal seperti yang didambakan bandit kayak gue dan nisa. Dunia memang memerangimu bu.. pikir gue.

Kami bertiga yang sepertinya nggak niat banget masuk kelas Karena galau n gelisah sendiri ngeliat yang lain pada belajar tetep jadi satpam yang nangkring di depan pintu dan terus memantau perkembangan selanjutnya.

Kami layaknya detektif handal melihat keadaan di bawah.

“eh jangan jangan itu guru PL” kata nisa sambil nunjuk guru yang lagi di bawah dan megang sesuatu mirip kertas ulangan.

“nggak ah” kata gue meyakinkan.

Sementara itu gue baru inget CCTV yang aktif dan kami lagi berdiri di depannya, si rizka yang udah gue peringatin malah sibuk dadah dadah di depan kamera, astaga geblek banget tu anak, gatau apa ini masalah hidup dan mati.

“buset itu ibunya” nisa nunjuk lagi ke ibu ibu pake motor dengan baju item dan jilbab biru di parkiran.

“mane? Nggak ah.. kan biasanya tu ibu jalan dari belakang, nah ini pake motor, nggak mungkin”

Firasat buruk kayaknya emang menghinggapi nisa, akhirnya guru dengan kostum yang sama masuk kelas gue sepuluh menit kemudian, argh bener.

“ibu minta maaf ya, bu silvi kemarin mendadak sakit jadi soalnya masih sama bu silvi”

BU SILVI I LOVE YOU SOOO MUCH (teriak gue dalam hati)

“tapi kita tetap lanjutkan ulangan hari ini, ibu tuliskan saja soalnya di papan tulis” lanjut ibunya.

“BU SILVI LOVE YOU NYA DI CANCEEEELLL”

Ya ampun, mau ujan, badai, gempa, bahkan tsunamipun ni guru tetep punya semangat tinggi, dan nggak ada yang bisa menghalanginya, salut dah, mana ada guru begini di jaman seperti ini. Ckck


AKUCINTABAHASAINDONESIA


Materi hari ini tentang biografi. Kami langsung ke perpus buat nyari bahan. Perpus yang tadinya rapi dan tampak teratur seketika hancur lebur karena kedatangan segerombolan manusia rusuh kelas gue. Melihat hal ini, penjaga perpus Cuma bisa pasrah dan berdoa dalam hati “ya allah, semoga manusia manusia ini tidak kembali lagi kesini suatu saat nanti” begitulah kira kira doanya, prediksi gue sih --“