28 Juni, 2011

itu ibu lo, sopan dikit dong!

Semoga dengan baca tulisan gue ini, kita bisa lebih menghormati orangtua apapun kondisinya, sayangilah mereka dan jangan membuatnya kecewa apalagi bersedih!

Hari pertama liburan, gue diajak jalan jalan ke GOR sekeluarga. Tujuannya, adek gue yang paling kecil pengen liat lumba-lumba dan akhirnya gue pun ikut terseret seret ngikutin dia dengan modus “ngapain kakak tinggal sendiri di rumah”. Kemakan omongan anak kecil, akhirnya gue juga ikutan siang itu.
Nyampe di GOR, gue sekeluarga mampir di salah satu cafe langganan kami. Mama dan kedua adek gue langsung ke arena pertunjukan lumba-lumba dengan semangat tanpa ba bi bu lagi. Oke, sekarang tinggal gue dan papa di cafe ini.
Gue dan papa yang nggak pernah akrab, tentunya cuma kebanyakan diam seribu bahasa sambil sambil menikmati juice masing-masing. Gue juga gatau persis kenapa gue dan papa nggak pernah deket, bahkan kami bisa dibilang sering berantem tentang hal-hal sepele yang harusnya nggak diperdebatkan. Menurut mitos (ceilee), kalo wajah kita mirip sama orangtua, pasti sifatnya berlawanan. Terbukti sih, gue yang mirip banget sama papa emang nggak pernah se-ide.
Suasana GOR siang itu lumayan rame, mulai dari para atlet yang lagi pelatnas buat seagames, porwil, popda, dan sebagainya, orang-orang yang lagi sibuk belajar nyetir, sampai pedagang yang menjajakan kaos-kaos pemain Semen Padang di sepanjang trotoar GOR meskipun sore itu nggak ada jadwal pertandingan.
Di cafe langganan kami itu, ibu pemilik cafenya punya anak cewek yang persis seumuran gue. Mereka asik ngobrol layaknya ibu dengan putri remajanya. Tapi beberapa menit kemudian situasi mulai memanas saat mereka memperdebatkan hal yang nggak gue mengerti penyebabnya. Gue mulai mikir, sebeda apapun pendapat gue sama papa tapi gue nggak pernah ngomong sekeras dan sekasar ini.
Anak cewek seumuran gue itu mengeluarkan kata-kata yang nggak semestinya diomongin ke orang tua terutama ibu. Dengan kasarnya dia sampai ngomong gini “kalo gitu, mending aku nggak usah dilahirin!”. “mama jangan asal ngomog, jangan sok tau!”. “mama bisa ngurus anak nggak sih? Liat tuh si abang, mama belain terus kan? Belain aja terus!”.
 Astaghfirullah..pengen gue tampar aja tu anak.
Gue spontan ngeliat papa yang juga terdiam menyaksikan perdebatan orangtua dan anak itu, papa tersenyum tanpa mengeluarkan satu kata pun. Gue sadar, nggak seharusnya selama ini gue berantem nggak jelas sama papa. Betapa malunya gue kalo sampe cek cok gue sama papa kedengeran oleh orang lain kayak perdebatan ibu-anak barusan. Hmm..

Tidak ada komentar: