Penyambutan rombongan smantri di SMA 4 Denpasar yang biasa disebut dengan “foursma” berlangsung meriah. Setelah tari-tarian, acara formal pun dimulai di aula pertemuan, ditandai dengan penyerahan bingkisan dan souvenir khas Sumatera Barat kepada Kepala sekolah SMA 4 Denpasar.
Layar OHP besar di tengah, dan dua layar kecil disisi kanan dan kirinya. Pertama adalah kata sambutan dari kepala sekolah SMA 4 Denpasar. Dari isi sambutannya tampak bahwa sekolah ini menyambut baik kedatangan kami dan program yang kami lakukan sebagai bentuk kerja sama. Setelah itu, giliran kepala sekolah smantri yang menyampaikan sambutan, barulah perwakilan guru dan selanjutnya perwakilan siswa dari masing-masing sekolah. Tentunya diwakili oleh ketua osis.
Saat ini seorang siswa foursma sedang berdiri di podium dengan senyum tipisnya yang berwibawa. Postur tubunya semampai, rambut hitamnya tersisir rapi, tatapannya menghipnotis semua orang yang berada di aula itu. Cool, begitu remaja sekarang menyebutnya.
Ternyata yang sedang berpidato itu adalah ketos foursma. Tak heran jika dari penampilannya ia terlihat sebagai seorang teladan. Aufa yang juga ketua osis bergidik melihatnya, baginya tak ada yang berbeda dari cowo itu, hanya saja ia mempunyai jabatan yang disegani dimata siswa, sama seperti dirinya.
Tak berlama-lama di podium, pidato dari ketua osis itu selesai, ia melempar senyum lagi dan menatap Aufa yang mungkin juga ia tahu bahwa Aufa adalah ketos smantri. Selanjutnya, giliran Aufa yang unjuk gigi.
MC acara dari foursma yang mengenakan pakaian adat bali itu dilewati Aufa, tujuannya hanyalah berdiri di podium dan berpidato seperlunya. Selama di perjalanan dari Padang, Jakarta hingga Bali, Aufa terus melatih pidatonya meskipun ini merupakan hal yang sudah biasa baginya.
---
Aufa baru saja menyelesaikan pidatonya, ia tampak lega dan kembali ke tempat duduknya tadi. Disana seseorang telah menuggu aufa.
“pidato kamu bagus, oh iya saya ketua osis foursma, Asta”.
“makasi. Gue Aufa”. Aufa menyambut uluran tangan Asta hingga mereka bersalaman. Dalam pikiran aufa saat ini, Asta adalah orang paling kaku yang pernah ia kenal. Logat Bali yang kental dan penggunaan ‘saya’-nya terlalu resmi buat aufa yang terbiasa dengan gue-lo nya.
“Aufa, gue penasaran sama sekolah lo. Kayaknya keren”. Lanjut Asta memulai pembicaraan.
Ternyata dugaan Aufa tentang ke-kaku-an Asta salah besar, sekarang ketos foursma itu ikut-ikutan dengan ber gue-gue ria.
“keren? Lo kan belum tau apa-apa tentang sekolah gue”.
“gue emang belum tau semuanya. Tapi kesan pertama gue liat siswa-siswinya, guru-gurunya. Gue mulai tertarik, penampilan kalian ramah, sopan. Atau mungkin memang wajah orang padang ramah-ramah ya? Hahaha”. Asta tertawa ramah, wajahnya makin terlihat tampan.
“silakan nilai beberapa minggu kedepan, Asta..:” jawab Aufa sambil tersenyum.
“yoi..gue yakin kita semua bakal berteman akrab. Bahkan bersahabat.”
Aufa yang awalnya kurang respect, kini mulai tertarik. Asta orang yang cerdas dari cara bicaranya, ramah, bersahabat, ganteng lagi. What a perfect boy, kata aufa dalam hati.
*bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar