Kepala sekolah, beberapa orang guru, dan perwakilan osis SMS 4 Denpasar mengajak kami berkeliling sekolah. Melihat aktifitas siswa, kegiatan belajar mengajar, hingga sarana dan prasarana sekolah.
Kepala sekolah berjalan berdampingan, guru-guru mengikuti dibelakangnya. Hingga ketua osispun juga berjalan beriringan, siswa lain hanya mengikuti di belakang. Ntah benar-benar mengikuti atau tidak,hanya tuhanlah yang tau.
Tak jauh berbeda dengan gedung sekolah smantri. Ada aula yang luas, ruang kepsek dan majelis guru, ruangan-ruangan kelas yang nyaman dan rapi, laboratorium tiap pelajaran, taman-taman yang indah dan terurus, perpustakaan, kantin, hingga toilet.
Yang menjadi perbedaan paling signifikan adalah cybernya. Jika di smantri perpustakaannya masih manual, di foursma perpusnya lebih canggih dengan akses hotspot. Jika di ruang kelas smantri hanya ada satu laptop dan OHP tiap kelas, di SMA 4 ini tiap meja siswa sudah dilengkapi laptop masing-masing lengkap dengan colokan listriknya.
Satu lagi, jika di smantri bangunan paling depannya adalah mushala. Disini gapura tempat sembahyangnya lah yang menjadi bangunan paling depan. Tentu saja masyarakat minang yang mayoritas muslim jelas berbeda dengan Bali yang 95% penduduknya menganut hindu.
“itu gapura, tempat kami sembahyang”. Jelas Asta ketika melihat Aufa memandang ke arah gapura.
“setiap hari?” tanya Aufa.
“ya, bahkan tiap saat.”
“oh..begitu”.
“beda dengan kita yang solat teratur lima kali sehari sesuai waktunya”.
“kita?” tanya Aufa bingung.
“ya, gue muslim fa. Minoritas penduduk Bali”.
“apa disini kerukunan umat beragama terjalin?” tanya Aufa lagi.
“hmm..kita nggak pernah membedakan satu sama lain”.
“salut, emang nggak ada alasan buat saling merendahkan. Apalagi lo yang muslim juga bisa jadi pemimpin di sekolah ini. Lo hebat Asta”.
“jangan terlalu muji fa, lo juga hebat. Cewe bisa jadi ketos”.
“emansipasi dong. Emang cowo doang yang bisa jadi leader?”.
“gue suka banget..cara berpikir lo dari awal. Gue beruntung ketemu temen kayak lo, fa”.
“haha gue juga. Oh iya, selama disini kita bakal ngapain aja?”.
“yang pasti lo tetep belajar kayak biasa. Tetep jadi ketos juga”.
“serius? Terus lo gimana? Lo kan juga ketua osis..”
“tenang aja, foursma punya dua ketos sekarang. Semua anggotanya udah gue kasi tau kok, kalau lo juga punya ‘kuasa’ sebagai ketos disini”.
“hmm..boleh juga”. Mereka lalu melanjutkan berkeliling sekolah.
*bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar