Guru-guru pendamping dan semua siswa sudah berkumpul di lobi Hotel Krisna Bali.
“kalian sudah siap berangkat? Pastikan semua sudah lengkap, jangan sampai ada yang ketinggalan” terdengar suara Bu Fatma yang selalu berwibawa.
“sudah semua bu..” jawab beberapa siswi kompak.
“yasudah, kalau begitu langsung masuk bus. Kita nggak boleh terlambat!”.
Semua guru dan siswa SMA 3 langusng menaiki bus dengan tertib. Ternyata didalam bus sudah ada tour guide yang akan membantu perjalanan menuju SMA 4 Denpasar. Mereka memanggilnya bli, panggilan untuk laki-laki dewasa di Bali.
Sepanjang perjalanan, terasa “hawa” berbeda dengan kehidupan mereka selama di Padang. Di Bali budayanya masih sangat kental. Banyak masyarakat yang masih menggunakan pakaian adatnya, terutama bagi mereka yang bekerja di bidang pariwisata atau perhotelan.
Tak hanya itu, rumah-rumah pendudukpun masih mengandung unsur budaya Bali yang unik. Setiap rumah mempunya gapura atau tempat sembahyang tersendiri. Yang paling khas, banyak pohon-pohon di depan rumah penduduk Bali yang menjadi pohon yang dikeramatkan. Entah apa tujuannya, tanpa terkecuali pohon-pohon itu diselimuti dengan kain beraneka warna dan motif. Mulai dari kotak-kotak hitam putih seperti catur, hingga warna kuning keemasan. Sungguh budaya unik yang tak dimiliki wilayah lain termasuk Padang sekalipun.
Jika Bali punya gapura yang megah sebagai simbol budayanya, Padang punya keunikan lain jika dilihat dari rumah adatnya. Rumah gadang mempunyai atok bagonjong yang sangatlah mencerminkan budaya minang nan indah. Relief dan ukiran kayunya pun tak bisa dianggap remeh. Bagi orang yang mengerti seni tentulah itu semua mempunyai nilai seni dan estetika yang tinggi. Tapi bagaimanapun, semua ragam kebudayaan di Indonesia wajib dijaga dan dilestarikan.
Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di SMA 4 Denpasar. Diluar dugaan, SMA 4 sudah mempersiapkan acara penyambutan yang megah dan meriah. Belum kami menginjak sekolahnya, disana sudah ramai dengan putri-putri Bali nan ayu yang ternyata siap untuk menari. Matanya yang tajam bak elang membuat kami tak lepas menatapnya.
Aufa teringat kampung halamannya di Padang. Jika ada tamu kehormatan, maka tuan tumah akan menyambutnya dengan tarian, tari pasambahan namanya. Tari ini juga ditarikan sekelompok gadis minang yang terlihat anggun dan bersahaja. Puncaknya adalah ketika penari inti yang biasanya berjumlah tiga orang memberikan carano pada tamu agung yang datang.
Berbeda dengan penari Bali yang dilihat aufa pagi ini, mereka tampak “ganas” dengan tatapan elangnya. Namun sesekali juga tak lupa melemparkan senyum pada tamu yang datang. Hal yang juga sangat berbeda, kalau tari minang selesai dengan waktu paling lama sepuluh menit, tarian Bali ini berakhir setelah setengah jam. Tak heran, banyak dari siswa siswi smantri yang terlihat bosan dan kadang sedikit mengumpat.
*bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar